Jatuh Ke Lubang

Warna itu tidak pernah membosankan setiap kali aku melihatnya. Langit menampakkan warna oranye, sebelum kemudian berubah menjadi ungu, lalu biru tua, sebelum menjadi muda, dan apa yang disebut matahari dan awan melayang-layang di sekitarnya. Aku melihat sekeliling, rumput lembut yang bergerak ke sana kemari, melambai tertiup angin. Memejamkan mata sedikit, merasakan bagaimana semilir angin samar-samar menabrakkan pada beberapa helai rambutnya yang mencuat ke atas.

Kakek bilang bahwa dulu kala, angin alami lebih baik daripada buatan seperti sekarang. Berkat tumbangnya hampir setiap pohon, polusi di mana-mana dan rusaknya beberapa lapisan udara yang membuat beberapa tahun kehidupan di bumi hidup dengan gas beracun. Beruntung, seorang genius berhasil membuat udara buatan, dan yang saat ini menjadi apa yang mereka semua hirup.

“Hari.”

Aku membuka mataku dan mendapati sosok gadis dengan mata coklat memandangku dengan jengkel. Rambut lurus sepinggang berwarna kemerahan menari-nari di belakang punggungnya. Ia mengenakan kaus hitam panjang dengan rok biru muda sebetis, yang terlihat kontras dengan rambutnya.

“Bukannya ini giliran kamu buat ngambil air? Kenapa malah tidur-tiduran di sini, sih?” seru gadis itu sembari berkacak pinggang.

“Anginnya enak. Aku mau tidur sebentar,” kataku sembari memejamkan mataku lagi. Itu tidak bertahan lama ketika gadis itu menarik-narik lenganku dan berbicara dengan suara berisik.

“Gak bisaa, kamu gak boleh males-malesan! Ada banyak orang yang nunggu tau!”

Aku mengerang malas ketika dia menarik tanganku hingga aku terduduk. Cemberut kulayangkan kepadanya. Meski begitu, aku tetap berusaha bangkit dan dengan setengah hati menyeret kakiku hingga mencapai sungai.

Setelah mencapai sungai, aku merogoh kantung celanaku dan mengambil apa yang nampak seperti balon karet. Aku menaruhnya di atas sungai, balon itumenggembung lebih besar kemudian menutup dengan sendirinya. Saat ini, balon itu berada di seukuran pria dewasa, dan sementara aku mungkin sudah mulai bertumbuh, itu masih lebih tinggi sedikit dari diriku sendiri.

“Kayaknya ini cukup,” kataku sembari menimang-nimang, memandang balon di hadapanku yang mengambang beberapa senti di atas tanah. Aku mencoba mendorong balon, dan ketika melihat tanjakan, aku menghela napas.

“Dasar malas!”

Suara itu lagi.

“Apa, sih yang kamu mau, Tanya?” kataku dengan sebal.       

Tanya namanya. Gadis itu setahun di bawahku, dan berbanding terbalik denganku. Dia adalah seorang kutu buku yang rajin, perfeksionis, dan tegas. Aku tidak tau mengapa dia selalu mengikuti kemana pun aku pergi, dan jika ada dia, aku tidak bisa beristirahat dengan tenang.

“Kamu tau kita gak punya waktu buat istirahat dan malas-malasan, kan? Kita harus siaga 24 jam!”

“Gak, gak. Kamu berlebihan!”

Aku mengerti apa yang dikatakan oleh Tanya. Sangat mengerti. Kami semua tinggal di pinggir kota, tempat terpencil yang rute perjalannya harus melalui tanah gersang. Tidak ada yang mau pergi ke sini, dan karena itulah mengapa anak-anak terlantar akhirnya berakhir di sini.

Polisi keamanan sudah melakukan gerakan bagi siapa pun yang tidak mendaftarkan diri mereka dengan sanksi khusus, yang orang-orang sebenarnya tidak tau apa itu. Dari beberapa informan yang berhasil keluar masuk ke wilayah ini, para pelanggar tidak akan melihat cahaya lagi ketika ditemukan. Itu semua dibuktikan ketika Krisan dan Mia, seorang lelaki dan wanita berusia paruh baya yang sudah hidup di sini sejak kecil memutuskan untuk bergabung ke kota pusat. Kakek, sebagai tetua di wilayah ini jelas melarang keras, bukannya kami tidak diperbolehkan keluar.

Akan tetapi, keluar sama halnya dengan mati.

Beberapa kali, polisi keamanan mencoba menyisir wilayah ini, dan tentu saja, seperti yang Tanya katakan bahwa kami harus siap siaga. Jika ada tanda-tanda bahwa kami hidup di tempat ini dan tanpa pendaftaran penduduk yang layak, kami akan menghilang.

Duduk dan menikmati sungai adalah hal terdekat dengan pusat kota. Tanya khawatir, dan tidak mau ada seorang pun yang tidak sengaja tertangkap hanya karena ini adalah bagian dari piket.

Sebenarnya, menyebalkan jika aku harus menjelaskan apa sebenarnya piket dan mengapa aku harus mendorong balon besar berisi air.

Hampir semua orang yang hidup di sini adalah anak-anak, selain kakek yang mengayomi semua orang di sini. Aku, yang berumur tujuh belas tahun adalah salah satu dari lingkaran anak-anak besar dari semuanya. Hanya ada delapan orang dari kami yang berusia enam belas sampai dua puluh tahun.

Dengan berat hati, aku kembali mendorong balon air kembali ke pemukiman. Tanya terus membayangi di belakangku agar aku tidak berhenti dan duduk sejenak. Gemerisik suara terdengar, dan beberapa tanda kehidupan mulai terlihat. Anak-anak di bawah sepuluh tahun sedang bermain dengan sebuah tablet di tangan masing-masing. Di atas itu, mereka semua sedang melakukan piket dan kebetulan aku mendapat tugas untuk membawa air.

“Makasih, Hari!”

Seorang lelaki yang hanya lebih tua satu tahun dariku berkata dengan riang. Namanya Ethan, dan dia adalah teman pertamaku sejak aku mengingat berada di sini. Ethan adalah anak yang ramah dan senang untuk membantu siapa pun. Menurutku, lelaki ini benar-benar sempurna. Semua orang menyukainya. Dia pintar, bertanggung jawab, dan terlebih lagi sopan juga ramah. Rasanya tidak ada kekurangan apa pun di dalamnya.

“Dibantu Tanya lagi?” Ini Vano. Dia lelaki yang seumuran denganku. Orangnya menyebalkan dan entah bagaimana senang menjatuhkan orang lain, terutama aku. Aku memutar mata, dan balas berkata dengan pedas.

“Kata orang yang menjerit waktu lihat tikus.”

Wajah Vano memerah, dan kulihat Tanya menghela napas sembari memijat keningnya. “Gak usah berdebat. Ayo selesain semuanya sebelum malam.”

Semua orang mengangguk menyetujuinya.

Kami semua bekerja keras untuk itu. Sebentar lagi musim panas akan datang. Dan semuanya benar-benar akan mengering secara ekstrim. Tidak ada orang yang menginginkan untuk pergi dalam teriknya matahari yang nampaknya semakin menyengat di musim itu. Itulah mengapa kami semua mengumpulkan berbagai bahan persediaan untuk bertahan hidup selama beberapa bulan ke depan, termasuk air yang baru saja aku bawa dari sungai. Karena jika tidak, sungai itu sendiri akan mengering, dan kami akan mendapat dehiderasi yang parah dengan tidak adanya persediaan air. Sungai itulah yang masih membuat kami semua hidup walau hampir seperti terisolasi di dunia luar.

Kalau boleh jujur, tidak ada yang menginginkan untuk berada di sini. Kami hanyalah korban dari perbuatan orang tua kami—yang entah sebenarnya pantas di sebut seperti itu. Mereka membuang kami, entah alasan apa pun dan berakhir di sini. Kakek, sebagai tetua yang berusia sekitar seratus tahun lebih, adalah orang yang mengayomi dan merawat kami. Mungkin akan lebih bagus jika kami dibawa ke panti asuhan. Namun, sayangnya tidak ada akses untuk itu.

Semua orang memiliki tanda penduduk yang tertanam di setiap lengan mereka. Sayangnya, sebagai anak-anak yang terbuang, kami tidak memiliknya. Tanda itulah yang membuat pemerintah menjaga semuanya terkendali, bagaimana mereka tau tentang pergerakan apa yang saat ini dilakukan, kesehatan, riwayat pendidikan, kebiasaan, bahkan sampai emosi seseorang. Agak menyeramkan jika membayangkannya. Positifnya, tidak ada kejahatan sama sekali, karena mereka akan ditangkap, bahkan jika mereka hanya memiliki emosi kebencian dan belum melakukan tindakan apa pun saat itu.

Yang menjadi masalah, kami semua terlahir dengan bebas. Tidak ada dari kami yang benar-benar diajarkan bagaimana mengatur sikap sehingga pemindai apa pun tidak menganggap kami adalah bahaya. Selain Krisan dan Mia, ada seorang lelaki lain yang usianya sepuluh tahun di atasku. Ia adalah genius, dan membuat alat sendiri agar kami memiliki akses keluar. Semua disambut secara terbuka kecuali oleh kakek. Awalnya, tidak ada yang mengerti mengapa kakek melarang keras. Semua orang marah, dan beberapa dari mereka berebut untuk mendapat alat tersebut agar bisa bebas.

Nyatanya, itu bukan kebebasan.

Setelah menanamkan alat tersebut di tangan, mendadak sebuah lampu merah berkedip-kedip di sekeliling mereka. Semua orang panik. Itu terjadi begitu cepat. Mendadak, para polisi keamanan datang dan segera menangkap mereka yang memiliki alat tersebut. Aku mencoba untuk menarik beberapa dari mereka untuk bersembunyi, tetapi kakek menarikku dan menggelenggkan kepalanya.

Aku marah tentu saja, tetapi kakek lebih marah padaku karena itu berarti aku memilih untuk ditangkap, dan membahayakan anak-anak lain yang bahkan tidak mengerti apa yang sebetulnya terjadi.

Tanya meneliti semua itu, dan mengatakan bahwa karena kami selalu bebas dan hanya peraturan tertulis yang membuat kami tertatur, memakai alat adalah sebuah pengekang yang lebih buas dari peraturan. Itu berarti kamu harus mengontrol setiap emosimu dengan ketat. Semuanya harus menjadi positif, dan jika emosi negatif muncul lebih banyak, tanda merah di sekitar akan membawamu ke penangkapan. Dan anak-anak yang ditangkap saat itu memiliki emosi kemarahan dan keserakahan yang besar. Tidak ada yang kembali sejak saat itu.

“Perhatian semuanya!” Seru Petra, lelaki yang paling dewasa setelah kakek. Umurnya dua puluh tahun, dan dia menjadi juru bicara jika ada berita masuk.

Semua orang berhenti beraktifitas.

“Untuk seminggu ke depan, gak ada yang bermain di atas lagi,” katanya dengan menyesal.

Banyak seruan protes untuk itu, tetapi Petra tidak membiarkannya.

“Polisi keamanan bakal nyisir daerah ini lebih ketat. Aku gak tau siapa yang bocorin soal kita, tapi mereka akan datang setidaknya seminggu lagi.”

Semua orang terdiam mendengarnya. Suara dengusan terdengar, dan itu adalah suaraku sendiri.

“Gak apa-apa, gak apa-apa. Toh, kita juga udah sering ada di situasi itu, kan? Sesekali keluar juga gak masalah,” kataku dengan ringan.

“Lebih baik gak sama sekali, kecuali jika ada keperluan.” Kata Tanya tegas.

Aku cemberut. “Kenapa enggak? Ini udah biasa, kan?”

“Apa kamu gak ingat beberapa dari kita hilang karena kesembronoan kayak gitu!” Tanya membentak. Itu membuatku cemberut dan jengkel.

“Kita udah dipenjara di tempat ini dan gak bisa keluar, masa kita juga gak bisa setidaknya untuk lihat langit?” kataku dengan protes yang jelas.

“Hari, Tanya.” Petra menegur. Kami berdua segera terdiam. Tanya dengan cepat segera membersihkan dirinya dan barang-barangnya sebelum pergi dengan kesal. Aku sendiri mengangkat bahu, tidak memedulikannya.

Semua orang nampak berhati-hati sejak saat itu. Kami semua tinggal di bawah tanah. Anak-anak dibawah lima belas tahun tidak diperbolehkan keluar sama sekali. Yang lain hanya keluar untuk mengumpulkan beberapa persedian yang masih kurang, itu pun hanya di sekitar lubang dekat tempat tinggal mereka.

   Aku jelas kesal dengan itu. Diam-diam, aku mencoba untuk menyelinap pergi. Suatu keajaiban mereka benar-benar lengah dengan itu. Senyumku merekah, dan mengembuskan napas lega ketika melihat matahari terik menyengat kulitku. Aku mencoba untuk berjalan, menikmati pepohonan dan rerumputan yang berembus angin. Aku tidak tau berapa lama sampai aku merasakan bahwa diriku sudah sangat jauh dari rumah.

Mendadak, lonceng berbunyi.

Itu adalah lonceng keamanan yang membuat radar ketika polisi keamanan datang. Jantungku berdegup kencang, kurasakan kakiku sedikit gemetar ketika mengetahui bahwa posisiku sangat rentan. Aku mencoba berbalik badan, dan melihat bahwa aku sudah benar-benar jauh, dan tidak ada apa pun untuk melindungi diriku.

Aku memandang tak percaya ketika tidak hanya satu, tetapi lima sampai enam helikopter datang. Dengan adrenalin yang mencapai puncaknya, aku berlari secepat mungkin menjauh dari teror untuk menyelematkan diri. Aku bahkan tidak merasakan kakiku sakit karena berlari terlalu kencang, atau bagaimana tanganku tidak bisa berhenti gemetar semenjak bunyi lonceng berbunyi. Mendadak, aku terperosok jatuh ke dalam lubang. Aku menjerit, menutup mataku untuk tidak melihat bawah. Apakah ini adalah akhir hidupku?

   Ini merupakan sebuah keberuntungan. Lubang itu tidak terlalu dalam, tetapi  juga memungkinkanku untuk bersembunyi dari polisi keamanan. Jantungku masih berdegup kencang. Aku masih bisa melihat sinar merah, tanda pengecekan yang melewati mulut lubang, dan akhirnya pergi menjauh. Menarik lututku, aku menangkupkan wajah ke dalamnya. Tanya benar, seharusnya aku tidak sembrono seperti ini. Aku tahu banyak orang yang sudah menghilang ketika mereka ditangkap ketika ketahuan mereka tidak terdaftar dalam kependudukan.

   Berjam-jam berlalu, dan aku nampaknya sempat tertidur. Hari sudah malam, dan aku masih belum berani untuk menampakkan diri. Sayup-sayup terdengar suara orang-orang yang sedang berbicara sebelum senter menyorotiku. Spontan, aku segera menyipit dan menghindari arah cahaya.

“Kamu selamat!” seru Ethan sebelum dia mencoba menarikku keluar dari lubang. Otakku belum bisa memproses semuanya. Adrenalin juga masih tertinggal di tubuhku. Mendadak, seseorang menarikku ke dalam pelukan erat, yang hampir membuatku tercekik.

“Syukulah. Ya, Tuhan, kukira aku gak bakal bertemu kamu lagi!” Itu Tanya. Aku panik, tidak yakin apa yang harus kulakukan. Memandang teman-teman di sekitar tidak membantu. Beberapa dari mereka hanya bersiul dan yang lain mencibir. Kakek ada di antara kerumunan, hanya melipat tangannya dan tersenyum.

Tanya melepaskan pelukan, seraya mengusap air matanya yang sedikit tumpah. Aku sedikit lega karena dia melepaskanku. Hanya saja, kelegaan itu terhenti ketika raut wajahnya berubah menjadi kesal.

“Dasar bodoh! Apa kamu gak belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya? Aku kira kamu udah dewasa untuk tau mana yang berbahaya mana yang tidak!”

“Maaf.” Aku menunduk malu. Beruntung, kakek akhirnya maju dan menepuk bahuku. Itu menyelamatkanku dari omelan Tanya yang memalukan di depan semua orang.

“Belajar dari pengalamanmu, Nak. Sampai suatu hari, kamu mungkin bisa membalikkan keadaan.”

Aku menatap kakek. Tidak mengerti apa maksud dari perkataannya, tetapi mengangguk mengiyakan.

Semuanya berakhir dengan damai. Kami kembali ke rumah kami yang berada di bawah tanah. Semua orang nampak tenang, dan aku benar-benar minta maaf pada mereka semua. Itu terasa memalukan dan canggung. Namun, kakek, Ethan, Petra, dan bahkan Tanya tersenyum padaku setelah itu. Aku balas tersenyum, sebelum memandang atap-atap ruangan dengan pandangan bertanya-tanya.

Apakah kami akan terus seperti ini?

JATUH KE LUBANG

Warna itu tidak pernah membosankan setiap kali aku melihatnya. Langit menampakkan warna oranye, sebelum kemudian berubah menjadi ungu, lalu biru tua, sebelum menjadi muda, dan apa yang disebut matahari dan awan melayang-layang di sekitarnya. Aku melihat sekeliling, rumput lembut yang bergerak ke sana kemari, melambai tertiup angin. Memejamkan mata sedikit, merasakan bagaimana semilir angin samar-samar menabrakkan pada beberapa helai rambutnya yang mencuat ke atas.

Kakek bilang bahwa dulu kala, angin alami lebih baik daripada buatan seperti sekarang. Berkat tumbangnya hampir setiap pohon, polusi di mana-mana dan rusaknya beberapa lapisan udara yang membuat beberapa tahun kehidupan di bumi hidup dengan gas beracun. Beruntung, seorang genius berhasil membuat udara buatan, dan yang saat ini menjadi apa yang mereka semua hirup.

“Hari.”

Aku membuka mataku dan mendapati sosok gadis dengan mata coklat memandangku dengan jengkel. Rambut lurus sepinggang berwarna kemerahan menari-nari di belakang punggungnya. Ia mengenakan kaus hitam panjang dengan rok biru muda sebetis, yang terlihat kontras dengan rambutnya.

“Bukannya ini giliran kamu buat ngambil air? Kenapa malah tidur-tiduran di sini, sih?” seru gadis itu sembari berkacak pinggang.

“Anginnya enak. Aku mau tidur sebentar,” kataku sembari memejamkan mataku lagi. Itu tidak bertahan lama ketika gadis itu menarik-narik lenganku dan berbicara dengan suara berisik.

“Gak bisaa, kamu gak boleh males-malesan! Ada banyak orang yang nunggu tau!”

Aku mengerang malas ketika dia menarik tanganku hingga aku terduduk. Cemberut kulayangkan kepadanya. Meski begitu, aku tetap berusaha bangkit dan dengan setengah hati menyeret kakiku hingga mencapai sungai.

Setelah mencapai sungai, aku merogoh kantung celanaku dan mengambil apa yang nampak seperti balon karet. Aku menaruhnya di atas sungai, balon itumenggembung lebih besar kemudian menutup dengan sendirinya. Saat ini, balon itu berada di seukuran pria dewasa, dan sementara aku mungkin sudah mulai bertumbuh, itu masih lebih tinggi sedikit dari diriku sendiri.

“Kayaknya ini cukup,” kataku sembari menimang-nimang, memandang balon di hadapanku yang mengambang beberapa senti di atas tanah. Aku mencoba mendorong balon, dan ketika melihat tanjakan, aku menghela napas.

“Dasar malas!”

Suara itu lagi.

“Apa, sih yang kamu mau, Tanya?” kataku dengan sebal.       

Tanya namanya. Gadis itu setahun di bawahku, dan berbanding terbalik denganku. Dia adalah seorang kutu buku yang rajin, perfeksionis, dan tegas. Aku tidak tau mengapa dia selalu mengikuti kemana pun aku pergi, dan jika ada dia, aku tidak bisa beristirahat dengan tenang.

“Kamu tau kita gak punya waktu buat istirahat dan malas-malasan, kan? Kita harus siaga 24 jam!”

“Gak, gak. Kamu berlebihan!”

Aku mengerti apa yang dikatakan oleh Tanya. Sangat mengerti. Kami semua tinggal di pinggir kota, tempat terpencil yang rute perjalannya harus melalui tanah gersang. Tidak ada yang mau pergi ke sini, dan karena itulah mengapa anak-anak terlantar akhirnya berakhir di sini.

Polisi keamanan sudah melakukan gerakan bagi siapa pun yang tidak mendaftarkan diri mereka dengan sanksi khusus, yang orang-orang sebenarnya tidak tau apa itu. Dari beberapa informan yang berhasil keluar masuk ke wilayah ini, para pelanggar tidak akan melihat cahaya lagi ketika ditemukan. Itu semua dibuktikan ketika Krisan dan Mia, seorang lelaki dan wanita berusia paruh baya yang sudah hidup di sini sejak kecil memutuskan untuk bergabung ke kota pusat. Kakek, sebagai tetua di wilayah ini jelas melarang keras, bukannya kami tidak diperbolehkan keluar.

Akan tetapi, keluar sama halnya dengan mati.

Beberapa kali, polisi keamanan mencoba menyisir wilayah ini, dan tentu saja, seperti yang Tanya katakan bahwa kami harus siap siaga. Jika ada tanda-tanda bahwa kami hidup di tempat ini dan tanpa pendaftaran penduduk yang layak, kami akan menghilang.

Duduk dan menikmati sungai adalah hal terdekat dengan pusat kota. Tanya khawatir, dan tidak mau ada seorang pun yang tidak sengaja tertangkap hanya karena ini adalah bagian dari piket.

Sebenarnya, menyebalkan jika aku harus menjelaskan apa sebenarnya piket dan mengapa aku harus mendorong balon besar berisi air.

Hampir semua orang yang hidup di sini adalah anak-anak, selain kakek yang mengayomi semua orang di sini. Aku, yang berumur tujuh belas tahun adalah salah satu dari lingkaran anak-anak besar dari semuanya. Hanya ada delapan orang dari kami yang berusia enam belas sampai dua puluh tahun.

Dengan berat hati, aku kembali mendorong balon air kembali ke pemukiman. Tanya terus membayangi di belakangku agar aku tidak berhenti dan duduk sejenak. Gemerisik suara terdengar, dan beberapa tanda kehidupan mulai terlihat. Anak-anak di bawah sepuluh tahun sedang bermain dengan sebuah tablet di tangan masing-masing. Di atas itu, mereka semua sedang melakukan piket dan kebetulan aku mendapat tugas untuk membawa air.

“Makasih, Hari!”

Seorang lelaki yang hanya lebih tua satu tahun dariku berkata dengan riang. Namanya Ethan, dan dia adalah teman pertamaku sejak aku mengingat berada di sini. Ethan adalah anak yang ramah dan senang untuk membantu siapa pun. Menurutku, lelaki ini benar-benar sempurna. Semua orang menyukainya. Dia pintar, bertanggung jawab, dan terlebih lagi sopan juga ramah. Rasanya tidak ada kekurangan apa pun di dalamnya.

“Dibantu Tanya lagi?” Ini Vano. Dia lelaki yang seumuran denganku. Orangnya menyebalkan dan entah bagaimana senang menjatuhkan orang lain, terutama aku. Aku memutar mata, dan balas berkata dengan pedas.

“Kata orang yang menjerit waktu lihat tikus.”

Wajah Vano memerah, dan kulihat Tanya menghela napas sembari memijat keningnya. “Gak usah berdebat. Ayo selesain semuanya sebelum malam.”

Semua orang mengangguk menyetujuinya.

Kami semua bekerja keras untuk itu. Sebentar lagi musim panas akan datang. Dan semuanya benar-benar akan mengering secara ekstrim. Tidak ada orang yang menginginkan untuk pergi dalam teriknya matahari yang nampaknya semakin menyengat di musim itu. Itulah mengapa kami semua mengumpulkan berbagai bahan persediaan untuk bertahan hidup selama beberapa bulan ke depan, termasuk air yang baru saja aku bawa dari sungai. Karena jika tidak, sungai itu sendiri akan mengering, dan kami akan mendapat dehiderasi yang parah dengan tidak adanya persediaan air. Sungai itulah yang masih membuat kami semua hidup walau hampir seperti terisolasi di dunia luar.

Kalau boleh jujur, tidak ada yang menginginkan untuk berada di sini. Kami hanyalah korban dari perbuatan orang tua kami—yang entah sebenarnya pantas di sebut seperti itu. Mereka membuang kami, entah alasan apa pun dan berakhir di sini. Kakek, sebagai tetua yang berusia sekitar seratus tahun lebih, adalah orang yang mengayomi dan merawat kami. Mungkin akan lebih bagus jika kami dibawa ke panti asuhan. Namun, sayangnya tidak ada akses untuk itu.

Semua orang memiliki tanda penduduk yang tertanam di setiap lengan mereka. Sayangnya, sebagai anak-anak yang terbuang, kami tidak memiliknya. Tanda itulah yang membuat pemerintah menjaga semuanya terkendali, bagaimana mereka tau tentang pergerakan apa yang saat ini dilakukan, kesehatan, riwayat pendidikan, kebiasaan, bahkan sampai emosi seseorang. Agak menyeramkan jika membayangkannya. Positifnya, tidak ada kejahatan sama sekali, karena mereka akan ditangkap, bahkan jika mereka hanya memiliki emosi kebencian dan belum melakukan tindakan apa pun saat itu.

Yang menjadi masalah, kami semua terlahir dengan bebas. Tidak ada dari kami yang benar-benar diajarkan bagaimana mengatur sikap sehingga pemindai apa pun tidak menganggap kami adalah bahaya. Selain Krisan dan Mia, ada seorang lelaki lain yang usianya sepuluh tahun di atasku. Ia adalah genius, dan membuat alat sendiri agar kami memiliki akses keluar. Semua disambut secara terbuka kecuali oleh kakek. Awalnya, tidak ada yang mengerti mengapa kakek melarang keras. Semua orang marah, dan beberapa dari mereka berebut untuk mendapat alat tersebut agar bisa bebas.

Nyatanya, itu bukan kebebasan.

Setelah menanamkan alat tersebut di tangan, mendadak sebuah lampu merah berkedip-kedip di sekeliling mereka. Semua orang panik. Itu terjadi begitu cepat. Mendadak, para polisi keamanan datang dan segera menangkap mereka yang memiliki alat tersebut. Aku mencoba untuk menarik beberapa dari mereka untuk bersembunyi, tetapi kakek menarikku dan menggelenggkan kepalanya.

Aku marah tentu saja, tetapi kakek lebih marah padaku karena itu berarti aku memilih untuk ditangkap, dan membahayakan anak-anak lain yang bahkan tidak mengerti apa yang sebetulnya terjadi.

Tanya meneliti semua itu, dan mengatakan bahwa karena kami selalu bebas dan hanya peraturan tertulis yang membuat kami tertatur, memakai alat adalah sebuah pengekang yang lebih buas dari peraturan. Itu berarti kamu harus mengontrol setiap emosimu dengan ketat. Semuanya harus menjadi positif, dan jika emosi negatif muncul lebih banyak, tanda merah di sekitar akan membawamu ke penangkapan. Dan anak-anak yang ditangkap saat itu memiliki emosi kemarahan dan keserakahan yang besar. Tidak ada yang kembali sejak saat itu.

“Perhatian semuanya!” Seru Petra, lelaki yang paling dewasa setelah kakek. Umurnya dua puluh tahun, dan dia menjadi juru bicara jika ada berita masuk.

Semua orang berhenti beraktifitas.

“Untuk seminggu ke depan, gak ada yang bermain di atas lagi,” katanya dengan menyesal.

Banyak seruan protes untuk itu, tetapi Petra tidak membiarkannya.

“Polisi keamanan bakal nyisir daerah ini lebih ketat. Aku gak tau siapa yang bocorin soal kita, tapi mereka akan datang setidaknya seminggu lagi.”

Semua orang terdiam mendengarnya. Suara dengusan terdengar, dan itu adalah suaraku sendiri.

“Gak apa-apa, gak apa-apa. Toh, kita juga udah sering ada di situasi itu, kan? Sesekali keluar juga gak masalah,” kataku dengan ringan.

“Lebih baik gak sama sekali, kecuali jika ada keperluan.” Kata Tanya tegas.

Aku cemberut. “Kenapa enggak? Ini udah biasa, kan?”

“Apa kamu gak ingat beberapa dari kita hilang karena kesembronoan kayak gitu!” Tanya membentak. Itu membuatku cemberut dan jengkel.

“Kita udah dipenjara di tempat ini dan gak bisa keluar, masa kita juga gak bisa setidaknya untuk lihat langit?” kataku dengan protes yang jelas.

“Hari, Tanya.” Petra menegur. Kami berdua segera terdiam. Tanya dengan cepat segera membersihkan dirinya dan barang-barangnya sebelum pergi dengan kesal. Aku sendiri mengangkat bahu, tidak memedulikannya.

Semua orang nampak berhati-hati sejak saat itu. Kami semua tinggal di bawah tanah. Anak-anak dibawah lima belas tahun tidak diperbolehkan keluar sama sekali. Yang lain hanya keluar untuk mengumpulkan beberapa persedian yang masih kurang, itu pun hanya di sekitar lubang dekat tempat tinggal mereka.

   Aku jelas kesal dengan itu. Diam-diam, aku mencoba untuk menyelinap pergi. Suatu keajaiban mereka benar-benar lengah dengan itu. Senyumku merekah, dan mengembuskan napas lega ketika melihat matahari terik menyengat kulitku. Aku mencoba untuk berjalan, menikmati pepohonan dan rerumputan yang berembus angin. Aku tidak tau berapa lama sampai aku merasakan bahwa diriku sudah sangat jauh dari rumah.

Mendadak, lonceng berbunyi.

Itu adalah lonceng keamanan yang membuat radar ketika polisi keamanan datang. Jantungku berdegup kencang, kurasakan kakiku sedikit gemetar ketika mengetahui bahwa posisiku sangat rentan. Aku mencoba berbalik badan, dan melihat bahwa aku sudah benar-benar jauh, dan tidak ada apa pun untuk melindungi diriku.

Aku memandang tak percaya ketika tidak hanya satu, tetapi lima sampai enam helikopter datang. Dengan adrenalin yang mencapai puncaknya, aku berlari secepat mungkin menjauh dari teror untuk menyelematkan diri. Aku bahkan tidak merasakan kakiku sakit karena berlari terlalu kencang, atau bagaimana tanganku tidak bisa berhenti gemetar semenjak bunyi lonceng berbunyi. Mendadak, aku terperosok jatuh ke dalam lubang. Aku menjerit, menutup mataku untuk tidak melihat bawah. Apakah ini adalah akhir hidupku?

   Ini merupakan sebuah keberuntungan. Lubang itu tidak terlalu dalam, tetapi  juga memungkinkanku untuk bersembunyi dari polisi keamanan. Jantungku masih berdegup kencang. Aku masih bisa melihat sinar merah, tanda pengecekan yang melewati mulut lubang, dan akhirnya pergi menjauh. Menarik lututku, aku menangkupkan wajah ke dalamnya. Tanya benar, seharusnya aku tidak sembrono seperti ini. Aku tahu banyak orang yang sudah menghilang ketika mereka ditangkap ketika ketahuan mereka tidak terdaftar dalam kependudukan.

   Berjam-jam berlalu, dan aku nampaknya sempat tertidur. Hari sudah malam, dan aku masih belum berani untuk menampakkan diri. Sayup-sayup terdengar suara orang-orang yang sedang berbicara sebelum senter menyorotiku. Spontan, aku segera menyipit dan menghindari arah cahaya.

“Kamu selamat!” seru Ethan sebelum dia mencoba menarikku keluar dari lubang. Otakku belum bisa memproses semuanya. Adrenalin juga masih tertinggal di tubuhku. Mendadak, seseorang menarikku ke dalam pelukan erat, yang hampir membuatku tercekik.

“Syukulah. Ya, Tuhan, kukira aku gak bakal bertemu kamu lagi!” Itu Tanya. Aku panik, tidak yakin apa yang harus kulakukan. Memandang teman-teman di sekitar tidak membantu. Beberapa dari mereka hanya bersiul dan yang lain mencibir. Kakek ada di antara kerumunan, hanya melipat tangannya dan tersenyum.

Tanya melepaskan pelukan, seraya mengusap air matanya yang sedikit tumpah. Aku sedikit lega karena dia melepaskanku. Hanya saja, kelegaan itu terhenti ketika raut wajahnya berubah menjadi kesal.

“Dasar bodoh! Apa kamu gak belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya? Aku kira kamu udah dewasa untuk tau mana yang berbahaya mana yang tidak!”

“Maaf.” Aku menunduk malu. Beruntung, kakek akhirnya maju dan menepuk bahuku. Itu menyelamatkanku dari omelan Tanya yang memalukan di depan semua orang.

“Belajar dari pengalamanmu, Nak. Sampai suatu hari, kamu mungkin bisa membalikkan keadaan.”

Aku menatap kakek. Tidak mengerti apa maksud dari perkataannya, tetapi mengangguk mengiyakan.

Semuanya berakhir dengan damai. Kami kembali ke rumah kami yang berada di bawah tanah. Semua orang nampak tenang, dan aku benar-benar minta maaf pada mereka semua. Itu terasa memalukan dan canggung. Namun, kakek, Ethan, Petra, dan bahkan Tanya tersenyum padaku setelah itu. Aku balas tersenyum, sebelum memandang atap-atap ruangan dengan pandangan bertanya-tanya.

Apakah kami akan terus seperti ini?

Bekasi, 21 Oktober 2021

Penulis : Shafa Nur Aulia (Peserta Challenge Beraninulis)

Editor : Rifa (Divisi Redaksi Beranibaca)


Table of Contents
RELATED POST

Separo Topeng Biru

Duhai Separo Topeng Biru Kau membungkam lengkung bibirku Kau penghalang segala ambu Mengubah rona wajah jadi sendu Duhai Separo Topeng Biru Kau membelenggu segala tawa

Read More »

Tutu yang Malang

“Ibu, apakah ada cara untuk menyelamatkan beruang kutub dan gunung es mereka?” Hari ini Oya dan Ibu membahas bumi yang semakin panas. Banyak hal terjadi

Read More »

[Puisi] Bahagia dan Luka

Di selasar semesta Kudapati sebuah laguna bermandi purnama Bersama ilalang yang bergoyang mesra juga aroma apak bangku kayu lembab dan basah Di balik harmoni alam

Read More »
SHARE THIS POST

Share to ...

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *