Tutu yang Malang

“Ibu, apakah ada cara untuk menyelamatkan beruang kutub dan gunung es mereka?”

Hari ini Oya dan Ibu membahas bumi yang semakin panas. Banyak hal terjadi karenanya, misalnya kebakaran hutan, banjir, dan badai yang semakin sering, serta es mencair di kutub.

“Ibu akan beritahu besok, sekarang waktunya tidur, oke?”
            “Baiklah.”

“I-i-ibuu! Jangan tinggalkan aku! Ayah! Tidak!” Oya terbangun dari mimpinya. Dia menyadari bahwa ini bukan kamarnya. Ini seperti kebun binatang. Tiba-tiba dia berteriak kaget setelah melihat bayangan dalam dirinya sendiri pada air yang ada di hadapannya.

“I-itu aku? A-aku beruang kutub? Lagi-lagi mimpi aneh, lebih baik aku segera tidur agar cepat kembali.”

Bukannya kembali menjadi manusia normal, Oya kini bermimpi sebagai Tutu si Beruang Kutub Putih yang tadi dia lihat di kaca. Mimpi itu sangat menyedihkan. Seperti kisah lama yang diputar kembali. Tutu kehilangan orang tuanya. Temannya juga mati satu persatu. Ini semua karena bumi semakin panas sehingga es terus mencair. Ikan-ikan pun semakin susah dicari. Akhirnya, Tutu menjadi beruang kutub terakhir yang masih bertahan. Dia dievakuasi dari habitatnya kemudian dirawat di kebun binatang.

Oya kembali terbangun, masih sebagai Tutu. Kini ada dua wanita sedang berbincang di depan kandangnya. Mereka adalah petugas kebun binatang.

“Sepertinya Tutu tidak akan bertahan lama,” ucap wanita yang tinggi.

“Ya, kau benar, belakangan ini dia jarang makan. Sayang sekali anakku tidak sempat melihat spesies beruang kutub,” ucap wanita bertubuh kecil sambil mengelus perutnya yang besar.

Mendengar hal tersebut, Tutu semakin sedih. Oya turut merasakan kesedihan itu. Tutu sangat merindukan keluarganya, teman-temannya, rumahnya, tempat bermainnya, serta semuanya yang pernah akrab dengan kehidupannya. Tutu menangis dalam tidurnya. Dia berharap bisa kembali ke masa-masa itu, berdiri di atas kokohnya gunung es, di bawah langit biru dan dikelilingi angin segar.

Oya bermimpi buruk, tubuhnya gelisah dan dia menangis dalam tidurnya.

“Oya! Oya, bangun!” Ibu mengguncang-guncang tubuh Oya. Setelah sadar dari mimpi, Oya langsung memeluk Ibu sambil mengusap air matanya. Kini dia sudah kembali ke rumahnya, di dalam kamarnya. Ayah dan Ibu juga ada dihadapannya.

“Ibu, bagaimana caranya menyelamatkan keluarga Tutu? Apa yang harus aku lakukan?!”

“Tenang dulu, Sayang. Coba ceritakan perlahan mimpimu. Mengapa kau sampai menangis seperti ini?” ucap Ayah sambil mengelus kepala Oya. Oya menceritakan semua mimpinya. Kesedihan Tutu yang merindukan keluarga dan rumahnya.

Setelah mendengar penuturan Oya, Ayah dan Ibu menggenggam tangannya.

“Kalau begitu kita bisa mulai dari yang paling mudah dengan menghemat energi, seperti mematikan lampu saat siang hari atau alat elektronik yang tidak dibutuhkan,” jelas Ayah, “bagaimana jika mulai besok, Ayah dan Oya menggunakan sepeda untuk ke rumah temanmu?”

Oya menjawab pertanyaan Ayah dengan anggukan penuh semangat.

“Baiklah, kalau begitu mulai dari sekarang, saat kita jalan ibu akan membawa wadah makanan dari rumah, jadi kalau mau jajan di taman tidak perlu menggunakan plastik sekali pakai.”

“Tapi Oya, kita bertiga saja tidak cukup untuk menyelamatkan Tutu. Kita perlu mengajak orang lain sebanyak-banyaknya untuk melakukan hal yang sama.”

“Aku akan mengajak teman-temanku di sekolah. Aku juga akan meminta Bu Guru untuk mengajak anak-anak di kelas lain. Jika bertemu teman baru di taman, aku akan mengajaknya juga. Apakah itu semua cukup Ayah?”

“Intinya, Oya tetap harus berusaha menjaga bumi ini dengan berbagai cara sampai akhir hayat. Dengan begitu, kita bukan hanya menyelamatkan Tutu, tapi juga teman-teman Tutu yang lain dari spesies yang berbeda.”

“Sekarang, tidurlah Oya, kamu butuh istirahat. Ibu dan Ayah akan menemanimu kali ini.”

Oya menuruti perkataan Ibu, dirinya memang sudah kelelahan juga ketakutan. Namun, orang tuanya ada di sini, Ibu di sebelah kanan dan Ayah di kiri, tidak ada yang perlu ditakutkan. Semoga tidak ada yang seperti Tutu di kehidupan nyata, semoga dia hanya ada dFalam mimpiku, doa Oya dalam hati sebelum tertidur.

Bontang, 23 September 2021

Penulis : Amalia Rapi (Peserta Challenge Beraninulis)

Editor : Fajar Amiruddin (Divisi Redaksi Beranibaca)

Table of Contents
RELATED POST

Separo Topeng Biru

Duhai Separo Topeng Biru Kau membungkam lengkung bibirku Kau penghalang segala ambu Mengubah rona wajah jadi sendu Duhai Separo Topeng Biru Kau membelenggu segala tawa

Read More »

Jatuh Ke Lubang

Warna itu tidak pernah membosankan setiap kali aku melihatnya. Langit menampakkan warna oranye, sebelum kemudian berubah menjadi ungu, lalu biru tua, sebelum menjadi muda, dan

Read More »

[Puisi] Bahagia dan Luka

Di selasar semesta Kudapati sebuah laguna bermandi purnama Bersama ilalang yang bergoyang mesra juga aroma apak bangku kayu lembab dan basah Di balik harmoni alam

Read More »
SHARE THIS POST

Share to ...

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

4 thoughts on “Tutu yang Malang”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *