Tulisan Umum

[Puisi] Hadapi Patriarki Melalui Narasi

Ada yang bilang kalau interaksinya dengan dunia luar dibatasi Ada yang berpendapat bahwa ia hanya makhluk lemah yang perlu dikasihani Seringkali dicaci karena tak becus jaga diri! Diremehkan karena tak punya daya kekuatan untuk berorasi Ini tentang perempuan yang seharusnya tidak dikekang dalam beraksi Karena toh, ia punya kendali Ini tentang perempuan yang seharusnya dikasihi …

[Puisi] Hadapi Patriarki Melalui Narasi Read More »

[Puisi] Doakan Aku Tak Pergi Lagi

: kurcaciku… (I)Dik,Kemarin kita tak tahuAkan ada malam ini;Di saat aku gelisahMelirik jam dindingSedang kau sibuk berkeliaranDi bawah hujan dingin. Dua jam yang laluPun kita tak tahuAkan ada detik ini;Di saat aku haru mengingatmuYang sesaat tadi duduk di hadapanku. Dik,Aku rinduTapi Dia lebih rindu.Dia-lah yang memanggilmuDia-lah yang mengatur waktu Kita bertemu. (II)Nak,Aku rinduMasa-masa waktu habisDimakan …

[Puisi] Doakan Aku Tak Pergi Lagi Read More »

[Dongeng Anak] Nila dan Pelangi

Pelangi adalah sebutan untuk tujuh kesatria pemberani yang melindungi Kerajaan Langit. Ketujuh kesatria tersebut dipilih dari ratusan prajurit pengawal istana. Anggota Pelangi harus memiliki karakter khusus dalam diri mereka. Kesatria Pelangi harus memilik sifat Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Ungu. Tujuh kesatria itu haruslah saling melindungi dan bekerja sama. Tugas Pelangi adalah memastikan …

[Dongeng Anak] Nila dan Pelangi Read More »

[Artikel] Bencana Alam dan Filsafat Stoa

Bencana alam, kira apasih yang ada dibenak kita tentang bencana alam? Apa sih yang langsung terlintas dipikiran kita ketika mendengar kata bencana alam? Kesedihan? Sakit? Empati? Itu semualah kira-kira yang pertama kali terlintas dipikiran kita ketika mendengar suatu wilayah, suatu kota, suatu daerah terkena bencana alam. Apasih definisi dari bencana alam itu? Mari simak bersama …

[Artikel] Bencana Alam dan Filsafat Stoa Read More »

[Puisi] Sajak-Sajak Alam Berkumandang

Hampir setiap waktu menemani Mengguncang dahsyatnya bumi Menyapa manusia yang tak menyadari Meruntuhkan bangunan kokoh lagi tinggi Yang bersaing dengan langit ciptaan Illahi Bukan hanya berguncang Sajak-sajak alam telah berkumandang Lewat bait-bait pepohonan Yang ditebang sembarangan Puisi sedih mulai dilantunkan Jangan salahkan! Tanah yang tak mampu bertahan Akar-akar yang lelah menahan Mana mungkin bisa bertahan? …

[Puisi] Sajak-Sajak Alam Berkumandang Read More »

[Cerpen] Jembatan Suramadu

Katanya, Rona bermalam di kos-kosan Cahyati. Namun, sampai saat ini aku belum menerima kabar darinya. Rasa rinduku sulit dibendung jika itu untuk Rona. Aku memilih mengirim pesan singkat kepadanya karena menahan rindu sama tidak nyamannya seperti menahan diri untuk tidak kentut.   “Teteh, jadi nginap di kos-kosan Cahyati?”  “Jadi, A. Kenapa?”  “Enggak apa-apa, cuma ingin tahu. Oh, ya. Kalau ada apa-apa atau butuh apa-apa, hubungi Aa!”  “Oke.”  Aku selalu dibuat penasaran. Akhwat tomboi itu bagiku penuh pesona. Jika berkirim pesan dengannya, kadang bisa berlama-lama, tetapi sering juga jawabannya singkat-singkat. Hari ini dia akrab denganku, bisa saja renggang keesokannya. Hari ini penuh pesona dan banyak cerita, esok bisa saja diam seribu bahasa. Namun, bagiku semuanya adalah hal yang menyenangkan, jika itu milik Rona. Dia mampu mengalihkan duniaku. Apakah aku mulai menyukainya?   Aku tidak tidur malam ini, merancang lima hari ke depan akan berbuat apa bersama Rona. Tidak, aku tidak akan berbuat aneh-aneh padanya, dia barang antik, harus aku jaga. Aku sangat menghormatinya. Dia istimewa.   Mungkin, aku juga mulai mencintainya.   Tepat pukul 02.30, aku mengiriminya pesan. “Teh, sudah siap?”  “Sudah, A. Tapi, enggak berani ke tempat parkir busnya. Kata Cahyati di daerah sini agak rawan.”  “Ya, sudah. Nanti dijemput. Tunggu, ya!”  Aku bergegas menuju parkiran motor, ingin sekali menjemputnya. Sayup kudengar, Rizal memanggilku dari kejauhan. Dia menyampaikan bahwa Pak Sekretaris Jurusan ingin menemuiku sebelum berangkat.   Ah! Aku gagal menjemput Rona.  “Zal, tolong jemput bendum, ya!” pintaku padanya.   Di depan pintu bus, aku melihat Rizal masih mengendarai motor, tetapi tidak kudapati Rona bersamanya. Aku memilih mendekati Rizal dengan sedikit berlari, “Zal, mana Rona?”  “Ada, Rey! Di dalam. Tenang aja! Enggak ada yang lecet. Dia masih yang terbaik untukmu.”  …

[Cerpen] Jembatan Suramadu Read More »

[Drabble] Dua Belas Hari Sebelum Kemerdekaan

Tiga hari setelah pemeriksaan, Ibu Bidan mengirimiku pesan, “Teh, sudah ada kontraksi?”  “Belum, Ibu”  “HPL-nya tanggal berapa?”  “Sepuluh Agustus, Bu. Tujuh hari lagi.”  “Oh, ya. Nanti tanggal 31 Juli tetep kontrol, ya. Kita periksa dalam lagi.”   “Iya, Bu. Insyaallah.”  Tanggal 30 Juli, ada flek keluar dan besoknya aku laporkan ke Ibu Bidan. Kembali, ia memeriksaku. Katanya, sekarang sudah bukaan dua. Aku bertanya khawatir karena riwayat kelahiran anak pertamaku maju satu bulan dari HPL, sedangkan kali ini sepuluh hari mendekati HPL baru ada flek saja.   “Bu, kalau sudah melewati HPL, tapi belum juga lahiran bagaimana?”  “Paling di USG lagi, Teh. Diobservasi. Tenang aja, kisah ibu melahirkan itu berbeda-beda.”   Saat hendak pulang, bidanku berpesan, “Teh, kalau nanti ada kontraksi dan sudah lima menit sekali, Teteh segera ke sini dan bawa perlengkapan melahirkan, ya.”   Aku membalas pesannya dengan senyum hangat, pesan Ibu Bidan terdengar seperti lantunan doa.   Pukul 22.15, aku merasakan kontraksi. Lima belas menit kemudian, aku merasakannya lagi. Tepat pukul 22.45, aku membangunkan suami. “Yah, ayo! Sudah lima menit sekali!”   Pukul 04.15, tanggal 5 Agustus, anak keduaku lahir. “Alhamdulillah. Kemungkinan karena tali ari-arinya pendek, Teh. Si ade jadi slow keluarnya.” Ibu Bidan memberitakanku.   “Tapi, anaknya sehat?”   “Sehat, Teh. Ini bukan kelainan, kok,” terangnya padaku.  Penulis: Farah Fatihah (Peserta Challenge Beraninulis)Mentor: Ipah (Divisi Redaksi Beranibaca 19/20)