Blog Kontributor

Review Buku – Challenge Agustus 2020 – Lelaki Tegar (Harun Tsaqif) oleh : mnptrianto

Judul Buku: Lelaki TegarNama Penulis: Harun TsaqifNama Pengulas: Manap TriantoIG Pengulas: mnptriantoUlasan: Buku ini terdiri dari 197 halaman terdiri dari 4 bagian utama yaitu LAKI-LAKI, JATUH CINTA, SEBAGAI SUAMI, dan PESAN AYAH. Ada juga 7 surat ayah untuk anak laki-lakinya yang cukup mengena di hati. Kalau mau disimpulkan secara singkat, buku ini mengajarkan kaum lelaki …

Review Buku – Challenge Agustus 2020 – Lelaki Tegar (Harun Tsaqif) oleh : mnptrianto Read More »

[Cerpen] Jembatan Suramadu

Katanya, Rona bermalam di kos-kosan Cahyati. Namun, sampai saat ini aku belum menerima kabar darinya. Rasa rinduku sulit dibendung jika itu untuk Rona. Aku memilih mengirim pesan singkat kepadanya karena menahan rindu sama tidak nyamannya seperti menahan diri untuk tidak kentut.   “Teteh, jadi nginap di kos-kosan Cahyati?”  “Jadi, A. Kenapa?”  “Enggak apa-apa, cuma ingin tahu. Oh, ya. Kalau ada apa-apa atau butuh apa-apa, hubungi Aa!”  “Oke.”  Aku selalu dibuat penasaran. Akhwat tomboi itu bagiku penuh pesona. Jika berkirim pesan dengannya, kadang bisa berlama-lama, tetapi sering juga jawabannya singkat-singkat. Hari ini dia akrab denganku, bisa saja renggang keesokannya. Hari ini penuh pesona dan banyak cerita, esok bisa saja diam seribu bahasa. Namun, bagiku semuanya adalah hal yang menyenangkan, jika itu milik Rona. Dia mampu mengalihkan duniaku. Apakah aku mulai menyukainya?   Aku tidak tidur malam ini, merancang lima hari ke depan akan berbuat apa bersama Rona. Tidak, aku tidak akan berbuat aneh-aneh padanya, dia barang antik, harus aku jaga. Aku sangat menghormatinya. Dia istimewa.   Mungkin, aku juga mulai mencintainya.   Tepat pukul 02.30, aku mengiriminya pesan. “Teh, sudah siap?”  “Sudah, A. Tapi, enggak berani ke tempat parkir busnya. Kata Cahyati di daerah sini agak rawan.”  “Ya, sudah. Nanti dijemput. Tunggu, ya!”  Aku bergegas menuju parkiran motor, ingin sekali menjemputnya. Sayup kudengar, Rizal memanggilku dari kejauhan. Dia menyampaikan bahwa Pak Sekretaris Jurusan ingin menemuiku sebelum berangkat.   Ah! Aku gagal menjemput Rona.  “Zal, tolong jemput bendum, ya!” pintaku padanya.   Di depan pintu bus, aku melihat Rizal masih mengendarai motor, tetapi tidak kudapati Rona bersamanya. Aku memilih mendekati Rizal dengan sedikit berlari, “Zal, mana Rona?”  “Ada, Rey! Di dalam. Tenang aja! Enggak ada yang lecet. Dia masih yang terbaik untukmu.”  …

[Cerpen] Jembatan Suramadu Read More »

[Drabble] Dua Belas Hari Sebelum Kemerdekaan

Tiga hari setelah pemeriksaan, Ibu Bidan mengirimiku pesan, “Teh, sudah ada kontraksi?”  “Belum, Ibu”  “HPL-nya tanggal berapa?”  “Sepuluh Agustus, Bu. Tujuh hari lagi.”  “Oh, ya. Nanti tanggal 31 Juli tetep kontrol, ya. Kita periksa dalam lagi.”   “Iya, Bu. Insyaallah.”  Tanggal 30 Juli, ada flek keluar dan besoknya aku laporkan ke Ibu Bidan. Kembali, ia memeriksaku. Katanya, sekarang sudah bukaan dua. Aku bertanya khawatir karena riwayat kelahiran anak pertamaku maju satu bulan dari HPL, sedangkan kali ini sepuluh hari mendekati HPL baru ada flek saja.   “Bu, kalau sudah melewati HPL, tapi belum juga lahiran bagaimana?”  “Paling di USG lagi, Teh. Diobservasi. Tenang aja, kisah ibu melahirkan itu berbeda-beda.”   Saat hendak pulang, bidanku berpesan, “Teh, kalau nanti ada kontraksi dan sudah lima menit sekali, Teteh segera ke sini dan bawa perlengkapan melahirkan, ya.”   Aku membalas pesannya dengan senyum hangat, pesan Ibu Bidan terdengar seperti lantunan doa.   Pukul 22.15, aku merasakan kontraksi. Lima belas menit kemudian, aku merasakannya lagi. Tepat pukul 22.45, aku membangunkan suami. “Yah, ayo! Sudah lima menit sekali!”   Pukul 04.15, tanggal 5 Agustus, anak keduaku lahir. “Alhamdulillah. Kemungkinan karena tali ari-arinya pendek, Teh. Si ade jadi slow keluarnya.” Ibu Bidan memberitakanku.   “Tapi, anaknya sehat?”   “Sehat, Teh. Ini bukan kelainan, kok,” terangnya padaku.  Penulis: Farah Fatihah (Peserta Challenge Beraninulis)Mentor: Ipah (Divisi Redaksi Beranibaca 19/20)

[Drabble] Sabar

Lagi-lagi, uang hasilku mengamen, sedikit. Badanku sakit semua setelah dipukuli malam ini. Darah di pelipis hasil dipukul kemarin bahkan belum kering, sekarang harus ditambah dengan luka baru.  “Salat, yuk.” Tiba-tiba R datang menghampiriku. Luka di wajahnya lebih banyak dari lukaku.  “Aku tidak akan salat lagi!” ucapku.   “Ayo, kita salat.” R kini menarik tanganku. R adalah teman yang paling dekat …

[Drabble] Sabar Read More »

[Drabble] Matinya Sebuah Empati

Setelah kepergian bapak seminggu yang lalu, akibat terjatuh dari atap gedung ketika bekerja, dan ibu entah pergi kemana. Untuk menyambung hidup, kami mencari barang bekas di tong sampah dekat jalan besar. Inilah rutinitasku dengan adikku setiap hari  Brakkkk!!!  “Sekar!” Kulihat badan adikku berlumuran darah. Truk pengangkut rempah-rempah melarikan diri setelah menabrak adikku.  “Tolong adik saya!” teriakku sekencang-kencangnya.   Namun tak ada yang datang …

[Drabble] Matinya Sebuah Empati Read More »

[Drabble] Gelap

“Bu, kenapa Aya ditakdirkan dengan kondisi seperti ini?” Pertanyaan itu rutin ditanyakan oleh Aya sebelum tidur. Ibu hanya bisa mengelus punggung tangan anak semata wayangnya, Ayana Sofya. Sejak menginjak usia 8 bulan Aya sudah mengalami kebutaan. Hal ini menjadi pukulan telak bagi orang tua Aya saat itu. Mereka tak pernah menginginkan, namun Tuhan yang menakdirkan.   …

[Drabble] Gelap Read More »

[Drabble] Wartawan vs. Salesman

Menjadi wartawan adalah impian suamiku. Tujuannya hanya satu, menyebarkan berita kebenaran tanpa hoax, tanpa konspirasi.   “Jerry D. Gray dalam bukunya menyatakan bahwa hampir 96% media massa dunia dikuasai oleh Yahudi. Entah mengapa itu justru membuatku semakin bersemangat. Aku ingin mengabarkan kepada dunia tentang indahnya Islam,” ucapnya. Pantas saja, dia lebih tertarik bergabung dengan media Islam. Setiap kali ada aksi solidaritas untuk Palestina, Rohingnya, dll, dia …

[Drabble] Wartawan vs. Salesman Read More »

[Cermin] Cermin Pak Tua

Payakumbuh, 2 Juli 2020 Lagi. Aku melihat laki-laki tua itu bersimpuh di atas jembatan penyeberangan orang dengan tasbihkaca di tangannya. Ia terlihat khusyuk menyebut asma-asma Tuhan dengan bibirnya yang kering. Matanya terpejam,sesekali terbuka untuk berterima kasih kepada orang yang memasukkan beberapa lembar rupiah kedalam ember merah di hadapannya. Ini hari kelima aku melihatnya. Penasaran, aku …

[Cermin] Cermin Pak Tua Read More »

[Fabel] Perbincangan Sebelum Dikurbankan

Bandung, 27 Juni 2020 Malam itu takbir menggema di seluruh penjuru langit. Para ternak diberi rumput segar di tengah ladang. Dibiarkan bebas diluar kandang meski tetap diikat. “Hai Bu Sapitri Sapi, bagaimana perasaanmu? Kita akan disembelih besok pagi,” tanya Pak Doma Domba. “Aku sangat takut, membayangkan pisau tajam itu menyayat kerongkonganku saja, aku sudah tak …

[Fabel] Perbincangan Sebelum Dikurbankan Read More »