Industri Tepung Tapioka Pembawa Perubahan

Berbicara tentang tepung tapioka pastinya mengingatkan tentang bahan dasar kudapan khas anak sekolah seperti cilok, cireng dan masih banyak lainnya. Namun, tahukah kalian bahwa salah  satu desa di Kabupaten Pati kebanyakan pendudukannya memproduksi tepung tapioka. Mulai dari remaja hingga orang tua menggeluti usaha produksi tepung tapioka. Penghasilan mereka juga sangat bergantung dengan hasil produksi tepung tapioka.  

Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah memiliki produk unggulan tepung tapioka yang tersentral di Kecamatan Margoyoso, lebih tepatnya di Desa Ngemplak Kidul. Desa Ngemplak Kidul sebagai sentra industri tepung tapioka memiliki sejarah dan budaya yang tentunya tidak dapat dipisahkan dari budaya yang melahirkan keterampilan membuat bahan baku makanan. Keterampilan  ini sudah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang warga Desa Ngemplak Kidul.

Tahun 1960-an merupakan awal mula dimulainya sejarah tepung tapioka di Desa Ngemplak Kidul. Industri tepung tapioka Ngemplak Kidul dimulai dengan cara manual dan tradisional, sehingga hasil produksinya masih rendah.  Dengan berjalannya waktu ditemukan beberapa peralatan membuat tepung tapioka yang lebih efektif dan efisien, sehingga hasil produksi tepung tapioka meningkat yang pada akhirnya membuat hampir 75% warga Ngemplak Kidul menjadi produsen tepung tapioka.

Latar belakang munculnya sejarah tepung tapioka Desa Ngemplak Kidul dipengaruhi oleh kondisi pertanian yang memprihatinkan, dimana penghasilan pertanian pada saat itu tidak mencukupi kebutuhan warga Ngemplak Kidul. Keadaan ini membuat warga Ngemplak Kidul berinisiatif untuk mengawetkan ketela dengan membuat tepung tapioka agar tahan lama dan dapat dimanfaatkan menjadi bahan makan lainnya. Selain itu, tanaman ketela juga menjadi tanaman yang sebagian besar ditanam warga Ngemplak Kidul dan sekitarnya. Jadi, dapat dikatakan tepung tapioka adalah inovasi warga Ngemplak Kidul dalam menghadapi hasil panen ketela yang melimpah.

Industri tepung tapioka Desa Ngemplak Kidul telah menjadi menjadi sejarah perkembangan pembuatan tepung tapioka yang berpengaruh terhadap kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan. Namun apakah pengaruh industri tepung tapioka terhadap kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan ini memberikan perubahan yang baik atau sebaliknya?. 

Industri Tepung Tapioka Bagi Ekonomi Perubahan Positif Atau Negatif?

Seperti yang telah dijelaskan bahwa industri tepung tapioka telah memberikan perubahan bagi perekonomian warga Ngemplak Kidul. Ini dapat dilihat dari mata pencaharian warga Ngemplak Kidul yang mula-mula hanya sebagai petani dan buruh tani, dan pedagang kini bertambah bukan hanya menjadi petani, buruh tani, dan pedagang melainkan juga sebagai pengrajin industri, buruh industri, buruh bangunan, pedagang dan lain sebagainya.

Dahulu sebelum tahun 1960-an kebanyakan warga Ngemplak Kidul memiliki mata pencaharian di bidang pertanian dan perdagangan. Dalam bidang pertanian para petani kebanyakan mengelola lahan pribadi bukan lahan pertanian milik negara. Para petani saat itu memanfaatkan lahan untuk bertani palawija, namun hasil pertanian ini tidak dapat menutupi biaya selama produksi. Hingga akhirnya diawal tahun 1960-an ini beberapa warga Ngemplak Kidul mulai beralih ke bidang industri yakni industri tepung tapioka.

Selain faktor hasil pertanian warga Ngemplak Kidul yang tidak dapat menutup biaya selama produksi ada beberapa faktor lain yang pada akhirnya menjadikan Desa Ngemplak Kidul sebagai industi tepung tapioka. Faktor lainnya yaitu kejenuhan masyarakat dibidang pertanian, kebutuhan akan pendidikan warga Ngemplak  Kidul makin meningkat, dan keinginan meningkatkan kesejahteraaan bidang pertanian sebagai mata pencaharian.

Faktor-faktor diatas telah memberikan banyak perubahan pada bidang perekonomian. Perubahan bidang perekonomian setelah adanya industri tepung tapioka yang paling terdampak adalah peralihan mata pencaharian warga Ngemplak Kidul yang semula sebagai petani dan buruh tani. Kini beralih menjadi buruh industri. Hal ini menjadi indikator bahwa lapangan kerja yang tersedia di Desa Ngemplak Kidul lebih banyak ditunjukkan dengan adanya perubahan mata pencaharian.

Namun, dibalik adanya peningkatan perekonomian warga Ngemplak Kidul ternyata kehadiran industri tepung tapioka di Desa Ngemplak Kidul juga membawa perubahan lain. Salah satu perubahan lainnya adalah sektor lingkungan, dimana lahan pertanian yang dulunya sebagai  lahan pertanian palawija sekarang beralih menjadi tempat industri tepung tapioka. Selain itu, sungai yang ada di Desa Ngemplak Kidul juga ikut tercemar ini dibuktikan dengan beberapa penelitian oleh Syahreza Amri Wildan di dalam skripsinya menunjukkan limbah buangan hasil industri tepung tapioka telah menjadi bahan pencemar sungai Silungonggo yang melewati Desa Ngemplak Kidul ditunjukkan dengan nilai COD, BOD, TSS dan Cl sudah melebihi ambang batas baku mutu Lingkunga Hidup. Menurut (Tsani, Sulistiyani, and Budiyono 2018) dari hasil penelitian tentang resiko pejanan sianida limbah hasil industri tepung tapioka pada air minum warga Ngemplak Kidul menunjukkan bahwa jarak sumur galian yang berada di dekat pembuangan limbah juga mengandung sianida dengan nilai tertentu, walaupun tingkat non karsinogenik yang ada masih berada dalam kategori aman. Akan tetapi, kadar sianida harus tetap diwaspadai.

Meski belum ditemukan kasus kematian karena keracunan sianida yang ada pada sumur galian. Kewaspadaan warga Ngemplak Kidul dengan dampak limbah juga harus ditingkatkan. Namun, karena industri tepung tapioka juga telah meningkatkan keinginan menempuh pendidikan yang lebih tinggi dari sebelumnya ini juga memberikan perubahan. Perubahan ini dapat dilihat dari limbah-limbah hasil industri tepung tapioka yang mencemari lingkungan beberapa sudah dimanfaatkan sebagai pakan ternak, campuran bioethanol dan bahan campuran membuat saus. Namun, ada beberapa pengusaha industri tepung tapioka yang ternyata juga tidak mampu mengolah limbah, sehingga limbah sisa industri tepung tapioka akan tetap mengalir ke sungai. pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa, industri tepung tapioka di Desa Ngemplak Kidul telah membawa perubahan yang positif dan negatif secara bersamaan. Dan perubahan dari segi ekonomi serta lingkungan ini tidak dapat dihindarkan.

21 Oktober 2021

Penulis : Syariatun Ni’mah (Peserta Challenge Beraninulis)

Editor : Eka (Divisi Redaksi Beranibaca)

Table of Contents
RELATED POST

Separo Topeng Biru

Duhai Separo Topeng Biru Kau membungkam lengkung bibirku Kau penghalang segala ambu Mengubah rona wajah jadi sendu Duhai Separo Topeng Biru Kau membelenggu segala tawa

Read More »

Jatuh Ke Lubang

Warna itu tidak pernah membosankan setiap kali aku melihatnya. Langit menampakkan warna oranye, sebelum kemudian berubah menjadi ungu, lalu biru tua, sebelum menjadi muda, dan

Read More »

Tutu yang Malang

“Ibu, apakah ada cara untuk menyelamatkan beruang kutub dan gunung es mereka?” Hari ini Oya dan Ibu membahas bumi yang semakin panas. Banyak hal terjadi

Read More »

[Puisi] Bahagia dan Luka

Di selasar semesta Kudapati sebuah laguna bermandi purnama Bersama ilalang yang bergoyang mesra juga aroma apak bangku kayu lembab dan basah Di balik harmoni alam

Read More »
SHARE THIS POST

Share to ...

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *